KETIKA TIDAK MENGETAHUI YANG MANA YANG HAQ (BENAR) DAN YANG BATIL (SALAH) -- BAGIAN 1

KETIKA TIDAK MENGETAHUI YANG MANA YANG HAQ DAN YANG BATIL

Seringkali kita sebagai orang awam tidak tahu harus berpihak pada siapa atau memilih yang mana ketika ada 2 pilihan yang hadir di hadapan kita.

Lalu ketika kita tidak mengetahui yang mana yang benar, apa yang menjadi pijakan bagi Anda untuk mengambil keputusan ???

Ada 3 hal yang seringkali menjadi pijakan atau landasan bagi banyak orang untuk mengambil keputusan, yaitu :


1. Memilih atau mengambil keputusan berdasarkan pendapat seseorang yang ditokohkan

Sesungguhnya mengikuti pendapat seseorang tidaklah 100% salah. Hal ini boleh-boleh saja. Tinggal persoalannya sejauh mana kita sudah membuktikan kelayakan tokoh tersebut untuk diikuti pendapatnya ?

Allah SWT berfirman :

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا رَبَّنَا آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا

“Pada hari ketika wajah-wajah mereka dibolak-balikkan di dalam neraka, mereka berkata, aduhai, seandainya dulu kita mentaati Allah dan Rasul. Mereka berkata, wahai Rabb kami, sesungguhnya kami (dahulu) mentaati tokoh-tokoh dan pembesar-pembesar kami lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang lurus), wahai Rabb kami, berikanlah kepada mereka siksaan dua kali lipat dan laknatlah mereka dengan laknat yang besar” [ QS. Al-Ahzaab: 66-68 ]

Agar kita tidak menyesal karena telah mengikuti sosok yang buruk yang kita anggap sebagai tokoh, kita harus melihatnya secara seksama terlebih dahulu mengenai kualitas dari tokoh yang kita ikuti. Ada 2 hal utama yang harus kita lihat, yaitu :

- Keilmuannya

- Akhlak (sikap, perilaku dan perbuatannya)


2. Memilih atau mengambil keputusan berdasarkan tradisi / kebiasaan

Seringkali seseorang mengambil sebuah keputusan berdasarkan kebiasaan / tradisi. Ia mengambil sebuah keputusan hanya karena orang tuanya melakukannya demikian, dan orang tuanya juga melakukannya demikian karena kakeknya juga melakukannya demikian, dan seterusnya.

Allah SWT berfirman :

وَاِذَا قِيْلَ لَهُمُ اتَّبِعُوْا مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ قَالُوْا بَلْ نَتَّبِعُ مَآ اَلْفَيْنَا عَلَيْهِ اٰبَاۤءَنَا ۗ اَوَلَوْ كَانَ اٰبَاۤؤُهُمْ لَا يَعْقِلُوْنَ شَيْـًٔا وَّلَا يَهْتَدُوْنَ

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah.” Mereka menjawab, “(Tidak!) Kami mengikuti apa yang kami dapati pada nenek moyang kami (melakukannya).” Padahal, nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa pun, dan tidak mendapat petunjuk. [ Q.S. Al-Baqarah / 2 : ayat 170 ]

Tidak semua hal yang bersifat tradisi, terutama untuk hal-hal yang sifatnya seni dan budaya, adalah buruk. Semuanya haruslah dilihat dari niatnya, prosesnya dan tujuannya. Jika niat, proses dan tujuannya tidak buruk maka kita tidaklah bisa mengatakannya sebagai hal yang buruk.

3. Memilih atau mengambil keputusan berdasarkan suara / pendapat mayoritas

Seringkali seseorang memilih dan mengambil sebuah keputusan berdasarkan suara / pendapat mayoritas dari pendapat yang ada di sekitarnya. Dan mungkin inilah cara seseorang mengambil keputusan yang paling sering dilakukan. Hal ini karena ia merasa nyaman jika tidak berbeda dengan pendapat mayoritas di sekitarnya.

Allah SWT berfirman :

وَاِنْ تُطِعْ اَكْثَرَ مَنْ فِى الْاَرْضِ يُضِلُّوْكَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗاِنْ يَّتَّبِعُوْنَ اِلَّا الظَّنَّ وَاِنْ هُمْ اِلَّا يَخْرُصُوْنَ

Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan. [ Q.S. Al-An'am / 6 : ayat 116 ]


KESIMPULAN :

Ketiga cara mengambil keputusan yang dipaparkan di atas tidaklah dapat dibenarkan dan belum tentu menghasilkan keputusan yang benar. Dan ajaran Islam mengkritisi 3 cara atau metode dalam mengambil keputusan tersebut.

Lalu cara yang manakah yang diajarkan oleh Islam dalam mengambil keputusan atau menilai ?

Insya Allah, saya akan membahasnya dalam tulisan ini BAGIAN 2.

Semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya terutama dalam mengambil dan menilai keputusan. Aamiin. Allahumma shali 'ala Muhammad wa aali Muhammad.


Salam Nalar Kritis


Max Hendrian Sahuleka